Pada zaman dahulu kala, hiduplah Raja Ronas yang adil dan bijaksana. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Senaya. Sejak kecil Putri Senaya suka belajar dan membaca buku, dan ia tumbuh menjadi putri yang cerdas.
Putri Senaya memiliki dua hewan peliharaan, seekor anjing hutan besar bernama Argo, dan seekor kera kecil bernama Kima. Putri Senaya sangat menyayangi kedua hewan peliharaannya yang cerdas itu.
Pada suatu hari, kerajaan mereka diserang oleh kerajaan lain, kerajaan itu diperintah Pangeran Lorka yang bengis dan suka berperang. Karena jumlah pasukan Pangeran Lorka jauh lebih besar, Raja Ronas mengalami kekalahan. Ia ditawan di sebuah gua yang gelap, jalan menuju gua itu gelap dan berliku-liku. Di gua itu ada sekawan semut beracun dan dua ekor kera besar yang buas, tidak seorang pun dapat keluar dengan selamat bila sudah masuk ke gua itu.
Pangeran Lorka yang jahat terpesona dengan kecantikan Putri Senaya, ia ingin memperistri Putri Senaya. Tentu saja Putri Senaya menolaknya, namun ia harus mencari akal untuk menolaknya. Sebab jika langsung menolak, Pangeran Lorka tentu akan membunuhnya. Putri Senaya akhirnya berkata, bahwa Pangeran Lorka harus membebaskan ayahnya dulu. Harus sendiri, tanpa bantuan prajurit. Pangeran Lorka tertawa menerima tantangan Putri Senaya, karena menganggap itu hal yang mudah.
Keesokan harinya, Pangeran Lorka berangkat menuju gua itu. Ia membawa benang yang sangat panjang dan senjata untuk membunuh kera yang buas, ia memakai sepatu dari karet agar langkahnya tidak terdengar. Putri Senaya yang ikut bersamanya membawa sekantong madu di tangannya. Saat Pangeran Lorka memasuki gua, diam-diam Putri Senaya mengoleskan beberapa tetes madu ke baju Pangeran Lorka.
Pangeran Lorka masuk ke gua sambil mengulurkan benang yang diikat ke pohon. Dengan demikian, ia tidak akan tersesat dan bisa keluar dari gua itu. Setelah beberapa lama, Putri Senaya memotong benang tersebut lalu kembali ke istana.
Di dalam gua, Pangeran Lorka tidak sadar benang yang dibawanya sudah putus. Saat melewati sarang semut ganas, ia berjalan pelan-pelan agar tidak mengganggu kawanan semut itu. Sepatu karetnya tidak menimbulkan bunyi saat melangkah, namun semut-semut itu mencium bau madu yang dioleskan di bajunya. Semut-semut itu langsung menyerbu Pangeran Lorka, ia lari tunggang-langgang mencari jalan keluar. Namun gagal karena benangnya telah putus, sementara itu semut-semut itu terus mengikutinya.
Setelah beberapa saat Pangeran Lorka akhirnya berhasil menemukan jalan keluar, namun ia sudah sangat lusuh dan malu. Pangeran Lorka akhirnya pergi ke tempat jauh, dan tidak berani kembali lagi.
Keesokan harinya, Pangeran Lorka tidak kembali. Putri Senaya yakin, Pangeran itu tentu telah jera dan malu untuk kembali. Ia pun berangkat ke gua bersama Argo dan Kima. Putri Senaya membawa dua kantung gula, dua sisir pisang, seikat anggur dan sedikit minyak tanah.
Sebelum memasuki gua, Putri Senaya membasahi ujung gaunnya yang panjang dengan minyak tanah. Waktu ia berjalan di gua, ujung gaun itu menyentuh lantai gua dan meninggalkan bau minyak tanah di lantai. Argo dan Kima mengikuti langkahnya.
Putri Senaya melewati tempat semut-semut yang ganas. Ketika semut-semut itu hendak menyerangnya, mereka mundur setelah mencium bau minyak tanah. Putri Senaya melemparkan sekantung gula ke dekat dinding gua, semut-semut itu pun langsung menyerbu gula tanpa menghiraukan Putri Senaya lagi.
Putri Senaya melanjutkan langkahnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara mengeram yang keras sekali. Tiba-tiba beberapa meter di depannya berdiri dua ekor kera besar yang siap menerkamnya, Kima bersembunyi ketakutan, dan Argo menggeram. Ia siap bertarung untuk melindungi Putri Senaya. Tapi Putri Senaya menyuruh Argo untuk diam.
Putri Senaya mengeluarkan dua sisir pisang dan anggur yang dibawanya ke arah kera-kera itu, lalu kera-kera itu langsung memakannya tanpa menghiraukan Putri Senaya lagi. Putri Senaya melajutkan perjalanannya, sampai akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang lapang.
Di tempat itu ada sebuah pintu yang terkunci, di situlah Raja Ronas ditawan. Kunci pintu itu tergantung di tempat yang tinggi di atas dinding, lalu Putri Senaya meninta Kima mengambilkannya. Dengan lincah Kima memanjat dinding gua, mengambil kunci itu.
Raja Ronas terkejut saat melihat putrinya sendiri yang membebaskannya, namun Raja Ronas khawatir bagaimana cara mereka keluar dari goa. Putri Senaya lalu meminta Argo agar mengikuti bau minyak tanah di lantai.
Argo mengerti kata-kata majikannya. Ia mengendus-endus, mengikuti bau minyak tanah yang ditinggalkan ujung gaun putri Senaya tadi. Saat melewati dua ekor kera buas tadi, Raja Ronas dan Putri Senaya tersenyum. Kedua kera itu tertidur kekenyangan dan mabuk oleh pisang dan anggur tadi. Dan saat melewati kawanan semut ganas, Putri Senaya melemparkan kantung gula yang kedua.
Akhirnya mereka semua tiba di istana dengan selamat, Raja Ronas kembali memerintah negerinya dengan bijaksana. Ia sangat bangga mempunyai seorang putri yang pandai dan cerdik seperti Putri Senaya.